Oleh: Ingot Simangunsong
SEBARAN virus Corona atau Covid-19, yang juga sampai ke negeri ini, INDONESIA, dijadikan panggung pertunjukan bagi para kepala daerah, apakah itu gubernur, bupati dan walikota.
Para kepala daerah, dengan gamblang mempertunjukan, bahwa otonomi daerah memiliki kekuatan dalam menyiasati pemutusan rantai sebaran virus yang sangat mematikan itu.
Semisalnya saja, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang dengan gamblang menyebutkan beberapa kajian pemerintah pusat soal penanganan Covid-19 mengacaukan skenario pemerintah daerah.
“Jadi di saat kita lagi berusaha untuk memutus rantai penularan, sementara beberapa kebijakan yang dibuka itu juga membuat mengacaukan skenario kita,” ujar Nurdin dalam Seminar Online ‘Siapkah Indonesia Menuju Normal Life’, dilansir dari Republika.co.id, Selasa (19/5/2020).
Skenario daerah, Gubernur Sulsel menyebutnya demikian. Jika disebut skenario daerah, setidaknya menjadi terwakili adanya skenario pusat dalam memutus rantai sebaran virus Corona atau Covid-19.
Seharusnya, pemerintah daerah jika dikaitkan dengan adanya skenario daerah, idealnya lebih mengapresiasi skenario pusat sebagai skenario nasional. Kalau pun ada skenario daerah, itu dapat dijadikan sebagai alat memperkaya gerakan memutus rantai sebaran virus Corona atau Covid-19.
Pemerintah daerah seyogianya lebih menonjolkan gerakan skenario pusat, bukan malah berupaya untuk mempertahankan skenario kedaerahan.
Walau otonomi daerah merupakan hak dari kepala daerah, bukan berarti menjadikan kepala daerah harus mendahulukan gagasan atau pengetahuannya.
Presiden RI, Joko Widodo, dengan tegas sudah menyatakan bahwa musibah sebaran virus Corona atau Covid-19, adalah bencana nasional.
Jika itu yang sudah ditetapkan, seharusnyalah para kepala daerah menyeragamkan langkah dengan skenario pusat, dalam memutus rantai sebaran virus tersebut.
Tidaklah elok, dalam situasi yang demikian memprihatinkan saat ini, masih ada kepala daerah yang menjadikan Covid-19 sebagai panggung mempertontonkan kesanggupan dalam menangani upaya pemutusan sebaran virus Corona atau Covid-19.
Aneh juga, ketika kepala daerah mempertunjukkan ketidaksiapan pemerintah pusat, justru di daerah yang dipimpinnya, masyarakat tidak dapat dikendalikan agar tidak beraktifitas dalam keramaian yang hiruk-pikuk tanpa mengatur jarak.
Aneh juga, ketika kepala daerah meminta pemerintah pusat agar memberikan dukungan kepada pemerintahan daerah. Sebenarnya, yang diharapkan adalah bentuk kerjasama pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.
Semoga pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dapat menjalin kebersamaan dalam memutus rantai sebaran virus Corona atau Covid-19. Tidaklah pula, harus menjadikan situasi ini, sebagai lahan mempertunjukkan panggung kekuatan dan kekuasaan masing-masing di masa sebaran virus Corona atau Covid-19.
Kekuatan yang harus dimiliki dalam memutus rantai sebaran virus tersebut, adalah bagaimana meningkatkan kualitas rasa kebersamaan dan semangat kegotongroyongan.
Semoga!
Penulis Pemimpin Redaksi konstruktif.id