Itu khan sebuah kata yang menarasikan sebuah tata cara hidup baru yang ditawarkan ke umat manusia di dunia ini.
Lahirnya diksi New Normal ini dipicu gegara pandemik wabah Covid-19 saat ini.
Padahal Pandemik wabah virus khan selalu terjadi sepanjang perjalanan peradaban umat manusia di dunia.
Seperti virus Kolera, Cacar, Pest, Tipus, Ebola, Flu Burung, dan lainnya.
Toh wabah itu, setelah dan ditemukan vaksinnya, kehidupan kembali normal. Rutinitas kehidupan kembali normal.
Namun di masa itu, tidak muncul atau lahir diksi sejenis New Normal. Tetapi kali ini akibat pandemik Covid-19, situasi ini tampaknya beda.
Diyakini bahwa perbedaan ini lebih dikarenakan oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini.
Dimana kini hampir semua umat manusia mengikuti hari demi hari, jam demi jam, bahkan detik demi detik, terkait berita atau info mengenai pandemik ini.
Sehingga para elit dunia dipicu juga untuk bereaksi berbeda dari pandemik-pandemik sebelumnya dan lahirlah diksi New Normal yang mendunia ini.
Bagaimana penerapan New Normal di Indonesia?
Tentulah setiap bangsa dan negara berbeda-beda dalam rincian penerapannya.
Misalnya karena Indonesia teramat kaya raya keragaman hayati, maka salah satunya kebiasaan minum “jamu”/herbal adalah sebuah keniscayaan.
Artinyat tidak lagi multi vitamin seperti yang umumnya dikonsumsi oleh kaum kelas menengah kita dan banyak yang produk import pula.
Sedangkan bagi bangsa-bangsa dan Negara-negara Barat kalau butuh jamu/herbal, ya dipersilahkan saja untuk mengimport dari Indonesia.
Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan ekonomi kita yang luar biasa bila industri kecil herbal didukung oleh negara secara besar-besaran.
Ya, marilah memaknai New Normal dengan naluriah yang positif.
(Ingot Simangunsong, #GerakanDaulatDesa, #GerakanKebajikanPancasila)